BAB I
PENDAHULUAN
Pada abad ke-4 dan ke-5 SM belum adanya Negara yunani, akan tetapi terdapat kota-kota yang telah mempunyai hidup bernegara yang teratur, seperti Milete, Athena, dan Sparta. Dalam kota-kota semacam itu, terutama di Athena mncullah pikiran tentang Negara dan hukum sebagaimana yang dialami orang-orang dalam kota itu sendiri.
Pada abad ke-6 SM sudah terdapat pemikir-pemikir yang menyusun suatu system yang lengkap. Orang yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sistem kepercayaan, bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai sutu kebenaran yang bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng. Artinya, suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) tidak berlaku, yang berlakun hanya suatu kebenaran yang bersumber pada mitos (dongeng-dogeng).
Setelah abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang misteri alam semesta ini jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal-pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi. Upaya para ahli pikir untuk mengarahkan pada suatu kebebasan berpikir ini menyebabkan banyak orang yang mencoba membuat konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir swecara murni. Maka, timbullah peristiwa ajaib The Great Miracle, yang nantinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia.
Berikut ini terdapat tiga faktor yang menjadikan Filsafat Yunani lahir.
a. Bangsa Yunani yang kaya akan mitos (dongeng). Di mana mitos dianggap sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Mitos-mitos tersebut kemudian disusun secara sitematis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif dan rasional, seperti syaoir karya Homerus, Orpheus, dan lain-lain.
b. Karya sastra Yunani yang dapat di anggap sebagai pendorong kelahiran filsafat Yunani, karya Homeus mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pedoman hidup orang-orang Yunani yang didalamnya mengandung nilai-nilai edukatif.
c. Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di lembah sungai Nil.
Dengan adanya ketiga faktor tersebut, kedudukan mitos digeser oleh logos(akal), sehingga setelah pergeseran filsafat tersebut lahir.
Pengertian filsafat pada masa itu masih berwujud ilmu pengetahuan yang masih global, sehingga nantinya satu demi satu berkembang dan memisahkan diri menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.
Zaman Yunani terbagi menjadi dua periode, yaitu periode Yunani Kuno dan periode Yunani Klasik. Periode Yunani Kuno diisi oleh ahli pikir alam (Thales, Anaximandros, Phytagoras, Xenophanes, dan Democritos). Sedangkan pada periode Yunani Klasik diisi oleh ahli pikir seperti Socrates, Plato, Aristoteles.[1]
BAB II
PEMBAHASAN
A. HELLENISME
1. Latar Belakang Kemunculan Hellenisme
Filsafat yunani klasik mencapai puncaknya dengan munculnya Aristoteles. Setelah ia meninggal dunia, pemikiran filsafat yunani merosot. Lima abad sepeninggal Aristoteles terjadi kekosongan sehingga tidak ada ahli fikir yang menghasilkan buah pemikiran filsafatnya seperti Plato atau Aristoteles, sampai munculnya filosof Plotinus (204-270).
Lima abad dari adanya kekosongan diatas diisi oleh aliran-aliran besar. Pokok pemikiran filsafat dipusatkan pada cara hidup manusia sehingga orang yang dikatakan bijaksana adalah orang yang mengatur hidupnya menurut budinya. Cara untuk mengatur hidup inilah yang menjadi dasar dari Epikurisme, Stoaisme, dan Skeptisisme.menurut sejarah filsafat, masa ini sesudah Aristoteles disebut zaman Hellenisme.
Hellenisme ini adalah nama untuk kebudayaan, cita-cita dan cara hidup orang Yunani seperti yang terdapat di Athena dizaman Pericles. Hellenisme pada abad ke-4 SM diganti oleh kebudayaan Yunani, atau setiap usaha yang menghidupkan kembali cita-cita Yunani zaman modern. Filsafat Yunani dimulai pada pemerintahan Alexander Agung (356-23 SM) atau Iskandar Zulkarnain Raja Macedonia. Pada zaman ini terjadi pergeseran pemikiran filsafat, dari filsafat teoritis menjadi filsafat praktis.[2]
Istilah Hellenisme dalam istilah modern diambil dari bahasa Yunani kuno hellenizein yang berarti “berbicara atau berkelakuan seperti orang Yunani” (to speak or make Greek). Lama periode ini kurang lebih 300 tahun, yaitu mulai 323 SM (Masa Alexander Agung atau Meninggalnya Aristoteles) hingga 20 SM (Berkembangnya Agama Kristen atau zaman Philo)[3]
Hellenisme ditandai dengan fakta bahwa perbatasan antara berbagai negara dan kebudayaan menjadi hilang. Kebudayaan yang berbeda-beda yang ada pada zaman ini melebur menjadi satu yang menampung gagasan-gagasan agama, politik, dan ilmu pengetahuan. Secara umum, hellenisme juga ditandai dengan keraguan agama, melarutnya kebudayaan, dan pesimisme.
Terdapat beberapa fenomena mengenai hellenisme yaitu sebagai berikut :
1) Dalam Konteks Agama
Ciri umum pembentukan agama baru sepanjang periode Hellenisme adalah muatan ajaran mengenai bagaimana umat manusia dapat terlepas dari kematian. Ajaran ini sering kali merupakan rahasia. Dengan menerima ajaran dan menjalankan ritual-ritual tertentu, orang yang percaya dapat mengharapkan keabadian jiwa dan kehidupan yang kekal. Suatu wawasan menyangkut hakikat sejati alam semesta dapat menjadi sama pentingnya dengan upacara agama untuk mendapatkan keselamatan.
2) Dalam Konteks Filsafat
Filsafat bergerak semakin dekat ke arah ‘keselamatan’ dan ketenangan. Filsafat juga harus membebaskan manusia dari pesimisme dan rasa takut akan kematian. Dengan demikian batasan antara agama dan filsafat lambat laun hilang.
Secara umum, filsafat Helenisme tidak begitu orisinal. Tidak ada Plato baru atau Aristoteles baru yang muncul di panggung. Sebaliknya, ketiga filsuf besar itu menjadi sumber ilham bagi sejumlah aliran filsafat yang lainnya.
3) Dalam Konteks Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan Helenistik pun terpengaruh oleh campuran pengetahuan dari berbagai kebudayaan. Kota Alexandria memainkan peranan penting di sini sebagai tempat pertemuan antara Timur dan Barat. Sementara Athena tetap merupakan pusat filsafat yang masih menjalankan ajaran-ajaran filsafat Plato dan Aristoteles, Alexandaria menjadi pusat ilmu pengetahuan. Dengan perpustakaannya yang sangat besar, kota itu menjadi pusat matematika, astronomi, biologi, dan ilmu pengobatan.
2. Aliran-Aliran Hellenisme
1. Epicurisme
Sebagai tokohnya Epicurus (341-271 SM), lahir di Samos dan mendapatkan pendidikan di Athena. Ia mendapat pengaruh dari ajaran Demokritos dan Aristhopos.
Pokok ajarannya adalah bagaimana agar manusia itu dalam hidupnya bahagia. Epicurus mengemukakan bahwa agar manusia dalam hidupnya bahagia terlebih dahulu harus memperoleh ketenangan jiwa. Jadi, apabila manusia dapat menghilangkan rasa ketakutannya, niscaya manusia akan memperoleh ketenangan jiwa, yang selanjutnya akan memperoleh kebahagiaan
Terdapat tiga ketakutan dalam diri manusia yaitu :
a. Agar manusia tidak takut terhadap kemarahan dewa
b. Agar manusia tidak takut terhadap kematian
c. Agar manusia tidak takut terhadap nasib
Untuk mencapai kebahagiaan manusia harus menghilangkan rasa ketakutan terhadap kemarahan dewa,kematian dan akan nasib.[4]
2. Stoaisme
Sebagai tokohnya adalah Zeno (366-264 SM) yang berasal dari Citium, Cyprus. Ajarannya mempunyai persamaan dengan Epicurus.
Pokok ajarannya adalah bagaimana manusia dalam hidupnya dapat bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut manusia harus harmoni terhadap dunia (alam) dan harmoni dengan dirinya sendiri. Untuk mencapai harmoni dengan dunia (alam), manusia terlebih dahulu harus harmoni dengan dirinya sendiri. Apabila manusia telah dapat mencapai harmoni dengan dirinya sendiri. Maka kebahagiaan bukan lagi sebagai tujuan hidup, tetapi dalam keadaan harmoni dengan dirinya sendiri, itulah sesungguhnya manusia dalam keadaan apatheia, yaitu keadaan tanpa rasa atau keadaan manusia dimana dirinya dapat menguasai segala perasaannya.
3. Skeptisisme
Tokohnya adalah Pyrrhe (350-270 SM). Pokok ajarannya adalah bagaimana cara manusia agar dapat hidup berbahagia. Syaratnya, manusia perlu untuk tidak mengambil keputusan karena orang yang tidak pernah mengambil keputusan itu disebut orang yang tidak pernah keliru. Dengan demikian, orang yang bijaksana adalah orang yang selalu ragu-ragu, dengan ragu-ragu itu orang akan tidak pernah keliru. Akhirnya orang tersebut dikatakan sebagai orang yang tidak pernah mangambil keputusan, dan orang yang tidak pernah mengambil keputusan itulah orang yang berbahagia.
4. Neoplatonisme
Tokohnya adlah Plotinus dan Ammonius Saccas. Kurang lebih lima abad sesudah Aristoteles meninggal dunia, muncul kembali filsafat Yunani yang untuk terakhir kalinya. Munculnya kembali pemikiran filsafat yunani ini bersamaan dengan munculnya agama Kristen (awal abad masehi).
Plotinus (204-270) lahir di lykopolis, Mesir. Pemikiran filsafatnya dipengaruhi oleh Plato, sedikit Aristoteles. Titik tolak pemikirannya adalah bahwa asas yang menguasai segala sesuatu adalah satu. Tuhan dianggap sebagai kebaikan tertinggi dan sekaligus menjadi tujuan semua kehendak. Demikian juga manusia sebagai makhluk bukanlah sebagai ciptaan Tuhan, tetapi pancaran Tuhan. Karena zaman Neoplatonisme ini diwarnai oleh agama, zaman ini disebutnya sebagai zaman mistik.[5]